Selasa, 07 Juni 2011

Beetwen Marketing & Sales

intermeso dulu : seburuk ini kah citra seorang salesman?


Dear all marketers,

Saya yakin apabila Anda ditawari suatu pekerjaan dengan label "SALESMAN", hmmm... saya bisa tebak apa yang sebagian besar orang jawab. Kalau buat saya, "it's an honour being a salesman!".

This is a salesman do... fight and face-to-face with customer....

Saya menulis ini bukan karena teori yang sering saya baca di banyak buku, tapi saya ceritakan ini karena saya alami.

Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa menjadi seorang marketing tidak akan pernah memiliki jiwa marketer apabila tidak paham tentang konsep sales. Dan sebaliknya, seorang salesman yang berhasil jika dia bisa mengkonsepkan metode penjualannya dan dia sudah selangkah menuju jiwa marketingnya. Deal?

Marketing dituntut sebagai orang yang visioner dan merencanakan hingga banyak langkah ke depan

Seorang marketing pasti cenderung memiliki prinsip visioner dengan segala konsep dan rencana penjualannya, disinilah kelebihan seorang marketing. Tapi apa yang terjadi jika dia tidak tahu caranya jualan? bahkan dia pun tidak pernah terjun langsung jualan? jelas saya akan tertawa tentang hal ini. Bahkan saya pun pernah bertemu orang semacam ini dan cuma satu koment saya : "KOPLAK!!!"

Sedangkan seorang salesman, dia lebih terlatih untuk fight di garis depan penjualan. Berani ambil resiko dan berani untuk tidak malu berbicara. Saya yakin target bukanlah hal utama seorang salesman atas dasar kepuasan bekerja. Tetapi saat seorang salesman ibarat berhasil memacari dan menikahi si customer, itulah kepuasannya, karena order sudah pasti mengalir terus dan satu hal yang jelas, dia berhasil "menjual dirinya".

Seorang salesman berani menjual produknya dan bahkan 'menjual dirinya'

Inilah kenapa banyak customer yang loyal terhadap seorang salesman, bukan kepada perusahaan tempat bekerja si salesman itu. Biasanya karena service yang memuaskan dari si salesman, misalnya, fast response, zero outstanding job dan profesionalisme kerja si salesman. Singkat kata, seorang customer akan 'jatuh cinta' pada salesman yang bisa membereskan dan menjadi solusi bagi semua permintaan, bahkan permasalahan si customer. Deal?

Namun jeleknya dari seorang salesman, saat dia sudah menikmati segala kelebihan menjadi salesman, entah itu bonus, fee penjualan, fasilitas kendaraan, dsb. biasanya seorang salesman betah menjadi seorang salesman (aneh ya istilahnya). Sementara dia malas untuk meng-upgrade skillnya untuk menjadi seorang marketing.

Tujuan marketing dan salesman adalah sama, yaitu 'jualannya laku'. Betul tidak?

Being marketer with salesman struggle soul is one of key success

Dari sini saya berani berkata bahwa seorang marketing akan menjadi hebat apabila dia berani menjadi seorang sales yang berpengalaman dalam berjualan dan memiliki visioner ke depan dan berwawasan luas, serta punya ide-ide gila untuk dia terapkan dalam strategi berjualannya.

Dan seorang salesman pun akan menjadi hebat apabila dia tidak hanya menjual produknya dan bahkan berani 'menjual dirinya' (dalam arti piawai berkomunikasi dan negosiasi lho...). Dan seiring dengan itu mau untuk belajar menjadi orang yang berani menciptakan suatu strategi ke depan dalam dia berjualan.

Atas hal tersebut tadi, saya ingin menyampaikan kepada pembaca, ayo lah kita yang dari divisi marketing dan kita yang dari divisi sales, mari saling bekerja sama sebagai partner untuk menaikkan angka sales/penjualan. We are not an enemy, but we are a partner. Deal?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar